Blog page

Yayasan Pondok Pesantren (YPP) Al-Ikhlas Gratiskan Biaya Sekolah 500 Santri

Image result for santri Yayasan Pondok Pesantren (YPP) Al-Ikhlas

Yayasan Pondok Pesantren (YPP) Al-Ikhlas menggratiskan biaya pendidikan untuk 500 santri.
“Sejak pesantren ini berdiri kami berniat memberikan pendidikan gratis pada santri dan siswa. Niat itu yang mendorong pengurus untuk berikhtiar,” kata Pengasuh YPP Al-Ikhlas KH Zaini Ahmad saat ditemui detikcom di pesantrennya, Selasa (7/8/2018).
Gus Zaini, sapaan akrabnya, mengungkapkan biaya pendidikan murid diambil dari laba usaha yayasan berbentuk koperasi. Selain koperasi, pesantren yang terletak di Desa Kendangdukuh, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan ini juga menerima sumbangan tak mengikat dari para donatur.
“Kami optimalkan koperasi dan sumbangan dari para dermawan yang tak mengikat,” terangnya.
Gus Zaini mengungkapkan kebijakan sekolah gratis sebenarnya baru terealisasi pada tahun 2012. Saat itu diakui Gus Zaini, yayasan mengalami kesulitan keuangan.

“Namun berkat pertolongan Allah, pesantren bisa (menggratiskan biaya pendidikan sampai sekarang, red),” ungkapnya.

Bahkan seiring dengan berjalannya waktu, murid yayasan terus bertambah. Pengurus pun mencoba berbagai cara untuk mendanai pendidikan muridnya. Upaya mereka pun didengar oleh pemerintah setempat.
“Dua tahun belakangan, sejumlah siswa mendapat BOS (batuan operasional siswa) dan BSM (bantuan siswa miskin) dari pemerintah. Bisa meringankan dan membantu,” tambahnya.

Ditambahkan Gus Zaini, siapapun bisa mendaftar untuk bersekolah di ponpesnya. Namun pihaknya mengaku memprioritaskan mereka yang berasal dari keluarga dengan tingkat perekonomian menengah ke bawah.

Salah satu pengurus dan guru di SMPI Al-Ikhlas, Maksun, mengungkapkan pengurus menjamin tak mengelola BOS dan BSM yang menjadi hak murid. Dana BOS dan BSM itu langsung dikirim ke rekening milik murid.

“BOS dan BSM langsung masuk ke rekening siswa. Ya alhamdulillah siswa terbantu. Meskipun begitu masih banyak yang belum menerima BSM dan BOS. Tak masalah karena pesantren tetap menjamin biaya pendidikan gratis untuk semua santri dan siswa,” terang Maksun.
(lll/lll)

Endang Irawan, Driver GO-JEK yang Bekerja untuk Hidupi 126 Santri

Penampilannya yang sederhana seringkali membuat orang tak menyangka, Endang Irawan adalah pemilik sebuah Pondok Pesantren Nurul Iman khusus hafalan Alquran di Ciomas, Bogor. Tidak ada yang spesial, namun Endang tampak lebih bangga mengenakan jaket GO-JEK daripada tampil dengan pakaian ala pemuka agama.
“Saya sedang belajar ilmu agar tak dikenal orang. Selain itu, bagaimanapun juga, GO-JEK ini juga lah yang berjasa ikut membesarkan pondok saya,” jelas Endang di Kantor GO-JEK, Pasaraya Blok M, Jakarta Selatan, Rabu (3/1).
Sebelum bergabung di GO-JEK, awalnya Endang bekerja sebagai mekanik elektrik khusus wilayah luar Pulau Jawa. Hampir semua pulau besar di Indonesia pernah ia datangi untuk mengais nafkah, tak hanya untuk keluarga namun juga untuk 126 orang santrinya.
Sebagai mekanik elektrik, biasanya Endang butuh waktu sekitar 8 bulan lamanya baru bisa pulang. Hal tersebut, cukup menyulitkan baginya. Bukan karena rindu, namun lebih karena ia merasa punya tanggung jawab untuk mengawasi para anak didiknya secara rutin.
“Kalau di GO-JEK, saya nyaman. Kenapa? Karena saya punya anak didik asuh yang perlu pengontrolan yang penuh. Kalau dulu saya bisa 8-6 bulan bekerja (di luar Jawa) paling lewat telepon. Kalau sekarang bisa bolak-balik kapan saja,” ungkapnya.
Pondok pesantren tersebut sebenarnya sudah berdiri sejak 12 tahun yang lalu. Namun, Endang mengakui, sejak bergabung dengan GO-JEK, ia baru bisa lebih fokus untuk mengurusnya.
Hal tersebut rupanya tidak sia-sia. Kini, pondok yang menampung santri dengan usia 12-24 tahun ini bahkan berhasil mencetak penghafal Alquran tingkat provinsi.
“Tentunya, menghafal 30 juz kan tidak mudah,” ujarnya bangga.
Dengan tanggung jawab yang begitu besar, Endang selalu meminta didoakan agar selalu sehat. Sebab, jika ia sakit, ia khawatir dengan nasib para anak-anaknya.
“Nanti yang biasanya makan telur, jadi makan genjer. Karena saya ini non-yayasan. Jadi independen pendanaannya,” ucap Endang.
Selain itu, tidak semua santri di tempatnya dipungut biaya jika ingin belajar di pondoknya. Endang mengaku, khusus anak driver GO-JEK yang yatim atau tidak mampu dan ingin belajar, ia akan menanggung semua biaya pondoknya termasuk makan dan kebutuhan sehari-hari.
“Lalu yang kedua adalah fakir, fakir itu dia ada penghasilan tapi tidak memenuhi. Itu saya lihat kondisi, kadang saya tidak ambil biaya. Begitu pula yang miskin, atau penghasilannya tidak menentu,” jelasnya.
Selain itu, ia juga memberikan uang saku kepada para santri sebesar Rp 5 ribu. Sebab, para santri ini sebenarnya juga dilarang untuk keluar dari pondok tanpa izin.
“Makanya kalau saya datang, tukang jajanan pasti habis. Tukang bakso, di sana satu mangkok masih Rp 2 ribu, masuk gerobak pulangnya kosong. Bakwan juga, pokoknya kalau saya datang tukang-tukang dagang pasti udah bolak-balik,” ucapnya sambil tertawa kecil.
Selain masalah waktu yang lebih fleksibel, Endang mengaku setelah bergabung dengan GO-JEK ia bertemu dengan rekan sesama driver GO-JEK dan bahkan customer yang peduli. Meski, awalnya banyak yang tidak percaya karena penampilan Endang jauh dari kesan ustad.
“Orang tidak ada yang menyangka saya ketua pembina pondok pesantren. Tapi kalau saudara-saudara ke sana, melihat santri cium tangan sama saya, baru percaya,” katanya.
Setiap harinya, penghasilan yang ia dapatkan dari menjadi driver GO-JEK selalu ia bagi menjadi empat. Sebagian untuk menghidupi santri-santrinya, untuk keluarga, membayar kontrakan dan satu lagi untuk diri sendiri.
“Selalu saya bagi. Kan saya juga punya keluarga, punya anak yang saya sekolahkan di pondok pesantren di luar kota, dan rumah saya masih ngontrak. Belum untuk saya, untuk beli bensin, service motor dan lainnya,” jelas Endang.
Namun menurutnya, kebutuhan yang begitu besar tersebut tidak lah sulit untuk dipenuhi. Sebab, ia percaya rezeki dari Tuhan memang tidak akan pernah salah.
“Memang tidak masuk di akal. Tapi memang begitu adanya. Padahal motor saya sudah dari tahun 2002, tapi mengapa customer selalu bilang bapaknya oke, bapaknya mantep, dan berikan uang tip? Ngobrol di jalan juga kadang enggak. Nah, itu makanya kadang-kadang rezeki memang beda-beda,” ungkapnya.
Selain itu, Endang mengaku memang tidak pernah memilih orderan. Semua orderan yang masuk selalu ia ambil. Sebab, Endang selalu teringat, ia punya ratusan perut yang harus diberi makan dan dicukupi kebutuhannya.
“Bahkan hingga pembalut dan obat-obatan juga saya yang beli. Karena kan pondok ini adanya di atas gunung, jadinya kasihan kalau mereka sakit atau apa harus turun gunung sendiri,” jelasnya.
Setiap harinya, Endang mulai keluar mencari orderan setelah salat subuh dan baru pulang sekitar pukul 8 malam atau ketika sudah merasa kurang enak badan. Endang juga mengaku, selama ia masih bisa, ia tidak akan keluar dari GO-JEK.
“Bahkan seandainya saya putus mitra, saya tetap tidak akan beralih ke aplikasi lain. Saya akan tetap di GO-JEK,” ujar Endang.
Sebab, Endang mengaku ia dibesarkan dari GO-JEK, termasuk soal pondok pesantrennya. Bahkan, menurutnya, berkat GO-JEK lah kini pondok pesantrennya bisa dikenal luas.
Tagged

Sambut Ramadan, Driver Gojek Benahi Masjid dan Bantu Anak Yatim

Menyambut bulan suci Ramadan 1439 hijriah, para Driver Gojek basecamp Team Driver Go Rumbai City (TDGRC) mengadakan sejumlah kegiatan sosial, Minggu (6/5/2018) lalu.

Aksi sosial yang dilakulan berupa kegiatan bakti sosial di mushalla al-mizan, depan Lapangan Politeknik Chevron Rumbai dan menyantuni anak yatim di Panti Asuhan Takdir Ilahi Rumbai.

Kegiatan sosial ini dilakukan dengan menggandeng Pemuda Pancasila serta Outlet Go Food kerjasama.

Pada Tribunpekanbaru.com, Ketua Basecamp TDGRC, Raynaldy mengatakan kegiatan sosial yang dilaksanakan merupakan ide dari Tim TDGRC dimana tujuannya untuk membantu mereka yang membutuhkan dan juga bisa menjadi ladang pahala bagi anggota TDGRC.

“Jadi bakti sosial ini merupakan ide bersama para driver,” katanya.

Ide ini diwujudkan dengan sebelumnya mengumpulkan rupiah demi rupiah dari hasil keringat para driver menjalankan orderan.

Kegiatan inj jadi komitmen para driver untuk turut berperan serta dalam membantu masyarakat, tidak hanya dari segi memberi layanan transportasi dan jasa, juga aktif dalam kegiatan sosial.

Ia mengatakan kegiatan yang dilakukan dengan juga merangkul sejumlah pihak ini bertujuan untuk memperkuat rasa kebersamaan.

Ketua Pemuda Pancasila Rumbai, Zulkardi, yang juga langsung ikut serta dalam kagiatan bakti sosial menyampaikan rasa bangganya atas kegiatan yang digelar oleh para driver yang selama beberapa tahun beroperasi disekitar Rumbai.

“Ini merupakan kegiatan kemanusiaan, tentu kita sangat mendukung sekali dan siap membantu. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa menambah pahala dan mampu mendorong rezeki lebih banyak lagi bagi para driver,” tutupnya. (*)

 

Surono, Pemecah Batu yang Hidupi 65 Anak Yatim

 

Surono (58), laki-laki kelahiran Kebumen Jawa Tengah tahun 1958, datang menuju Ibukota dengan harapan untuk meraup pundi-pundi rupiah demi membantu kehidupan orangtua di kota kelahirannya. Laki-laki yang kini menempati sepetak kontrakan di Jl Cipinang Jaya IIB, RT 3/RW 9, Cipinang Besar Selatan, Jatinegara, Jakarta Timur ini mengatakan tertarik pergi ke Jakarta setelah melihat teman-temannya sukses mencari rezeki di Ibukota.

Tahun 1973, saat ada tawaran menjadi pembantu rumah tangga di rumah pengusaha toko bangunan di sekitar Rawamangun, tak pikir panjang, ia pun langsung menerimanya. “Ya sudah, yang penting saya sampai Jakarta, ke Jakarta gratis lagi,” ujar Surono seraya kembali mengingat masa lalunya. Beberapa lama bekerja menjadi pembantu toko, Rono pun ‘naik pangkat’. Kali ini dia ditugaskan menjadi penarik gerobak di toko bangunan milik majikannya. Hidup sendiri membuat Rono ingin segera menikah. Perempuan yang menjadi idamannya adalah pelayan yang juga bekerja di tempat tersebut. “Iya setiap hari ketemu lama-lama saling suka, dan bos akhirnya tahu, 1977 saya dinikahkan,” kata Rono. Satu tahun berselang istrinya mengandung.

Namun menjelang usia kandungan menginjak 7 bulan, sang istri sakit darah tinggi. “Saya berobat ke mana-mana biar istri saya sembuh, tapi Allah berkata lain, dia pulang terlebih dahulu sama anak saya,” jelas Rono. Hingga tiga kali menikah, Rono tak mendapatkan keturunan. Memasuki tahun 1994, penglihatan mulai berkurang. Dalam keterbatasan, Rono sempat berpikir untuk menjadi pengemis di lampu merah. Namun dia tetap bertahan untuk tidak melakukannya. Tak mau berdiam diri dalam keterbatasan, pada tahun 2008 Rono berjualan telur asin keliling. Setiap paginya dia berjalan ke pasar pagi Rawamangun untuk membeli telur asin yang kemudian Rono jual dengan cara berkeliling kampung. Namun, usaha untuk mendapatkan nafkah ini berakhir dengan cerita lain. Jualannya lesu. “Mungkin masyarakat sudah bosan kali ya setiap hari saya keliling bawa telur asin,” jelasnya. Ia pun mengubah haluannya dengan berdagang pisang keliling. Ternyata usaha ini pun juga berakhir dengan kisah yang sama, yakni tak sukses.

Suatu ketika Rono sedang pulang berjualan pisang di dekat rumahnya Rono tersandung batu yang membuat Rono langkah kakinya terhenti dan terjatuh. Sambil meraba ada apa yang membuat dirinya terjatuh, Rono merasakan bahwa itu adalah sisa-sisa batako pecah di toko bangunan. “Saya jatuh karena bebatuan itu, saya pikir dan termenung mungkin inilah jalan Yang Maha Kuasa untuk saya dalam memperoleh rezeki,” ujarnya. Keesokan harinya Rono mulai berhenti berdagang. Rutinitasnya sehari-hari sekarang sebagai pemecah batu bata sisa-sisa di depan toko bangunan, yang terletak di sekitaran Cipinang. Dengan palu sebagai alat kejanya setiap pagi ia datang menuju lokasi tempat mencari nafkah, sisa batu bata dan batako yang sudah rusak dan tidak dijual ia hancurkan perlahan hingga halus dan dimasukkan dalam karung. “Saya sekarang mencari berkahnya saja, jam 7 pagi saya mulai pecah batu dan jam 11 pulang sholat makan, nanti abis Ashar sampai jam 5 kerja lagi” ujar Rono. Batu bata dan batako itu ia haluskan perlahan, dengan ‘indra’ penglihatan yang tak ada, ia cukup terampil dalam memecahkan batu, dihancurkan satu per satu hingga menjadi keping-keping kecil. Batu-batu kecil itu dia masukkan dalam karung. Satu karungnya seberat 50 kilogram. Dengan pekerjaannya itu, Rono selalu bersyukur, bahwa dia masih bisa mencari nafkah dan tidak mengemis. Selain itu, puluhan tahun mendambakan keturunan namun juga didapat, Rono masih berprasangka baik kepada Allah. Di tengah-tengah keterbatasannya, Rono kini amat bahagia karena menjadi anak-anak asuh yatim piatu di sekitarnya. Bermula hanya 2 orang anak yatim, kini Rono memiliki 65 anak yatim, semuanya sangat dekat dengan dirinya.

Ketika berkumpul dan bertegur sapa setiap anak yang datang pasti bersalaman dengan Rono. “Dulu cuma sedikit, cuma ada dua orang, tapi Alhamdulillah sekarang bisa berbagi,” ucapnya. Rono selalu memberikan nasihat dan doa-doa terbaik pada anak yatimnya agar mereka kelak menjadi orang yang berguna dan berakhlak mulia terhadap diri sendiri dan juga kepada sesama. Di momen Ramadan ini ia kerap berkumpul dengan anak-anak yatimnya untuk sekedar berbagi rezeki dan memanjatkan doa bersama. Kini, Rono menjadi bapak di antara puluhan anak yatimnya. Ia tak pernah menyangka bahwa ia diberikan pelajaran yang amat berharga oleh Yang Maha Kuasa. Ketika indra tak lagi melihat, ia berubah menjadi diri yang lebih baik dari sebelumnya, ternyata ia tersadar bahwa bersyukurlah kepada sang Illahi menjadi kunci kebahagiaan yang kekal.

Tagged